Berapa banyak orang yang kecewa karena merasa ditipu
oleh buku yang menjanjikan kiat mudah meraih sukses? Atau jurus menjadi kaya
dalam 10 hari? Atau pintar bahasa ini-itu dalam satu minggu?
Saya menduga, fenomena kecewa atau merasa di-php
oleh buku-buku jurus pintas semacam itu pasti tidak sedikit. Tapi pernahkan
kita bertanya: kenapa kita kecewa? Atau lebih tepatnya, kenapa kita gagal
menerapkan buku-buku itu? Pada kesempatan ini, saya akan mencoba mengajukan
sebuah penalaran. Semoga bisa menyibak kabut yang menghalangi kita dari
pemahaman. Minimal nyambung.
Pertama
Penulis buku bukanlah pencipta keajaiban. Betapapun
indahnya kata bijak yang mereka kutip, mereka rangkai; betapapun kita terpesona
olehnya, kata-kata itu tidak lebih hanyalah beberapa baris kata biasa, yang tak
berarti, jika kita tak memahaminya secara komplit. Seringkali orang terpesona
oleh untaian indah kata bijak, tapi tak memahami makna yang tersirat di
dalamnya. Inilah sumber kekecewaan dan perasaan-ditipu yang dialami sebagain
orang.
Hanya karena seseorang yang sukses menulis kiat
kesusksesannya, bukan berarti mereka memberitahukan semua yang mereka kerjakan
untuk meraih kesuksesan itu. Percayalah, mereka melakukan sesuatu yang lain
yang tak tertulis, di luar apa yang mereka sarankan dalam tulisan.
Buku yang mereka tulis hanyalah penyederhanaan,
semacam intisari dari sekian pengalaman dan percobaan yang pernah mereka jalani
untuk meraih kesuksesan mereka. Pembacalah yang harus menerjemahkan intisari
itu ke dalam konteks kehidupannya sendiri, agar dia menemukan makna yang cocok
untuk kesuksesan yang diperjuangkannya. Seringkali upaya ini membutuhkan waktu.
Hanyalah kita yang mau berpikir ajaib, yang akan
menjadikan sesuatu di tangan kita ajaib. Begitu juga halnya dengan buku kiat
sukses, akan menjadi ajaib di tangan yang mampu menjadikannya ajaib. Orang
ajaib ini adalah dia yang mampu atau minimal mau berusaha menemukan makna di
balik kata-kata.
Kedua
Dari jawaban pertama yang diajukan, ada baiknya kita
nonton film Kungfu Panda 1. Hehe…
Ada scene menarik ketika Po mendapati bahwa isi
gulungan naga yang selama ini dianggapnya mampu menciptakan kejaiban,
membuatnya sakti, ternyata kosong. Bahkan seluruh pendekar di Istana Giok pun
terkejut, tidak menyangka isi gulungan itu kosong.
Walhasil, rasa frustasi pun melanda banyak orang, terutama
Po yang selama ini diyakini sebagai Kesatria Naga, satu-satunya solusi untuk
mengalahkan musuh yang sedang dalam perjalanan. Ketika Po dalam perjalanan menuju
tempat yang lebih aman, Ayahnya yang penjual mie, memberitahunya sebuah resep
mie.
Dia mengatakan, bahwa resep untuk mie buatannya yang sangat
lezat, yang selama ini dikagumi masyarakat, ternyata tidak ada. Tidak ada resep
sama sekali. Itu hanya mie biasa.
“Resepnya adalah tidak ada. Tidak ada resep,”
begitulah kira-kira kata sang ayah.
Po terkejut. Ia lantas membuka gulungan naga di
tangannya, dan terbelalak karena mendapatkan pemahaman baru: tidak ada resep
untuk menjadi Ksatria Naga. Ternyata, inilah rahasia di balik kosongnya
gulungan naga. Ia pun bergegas kembali, menyelamatkan gurunya yang sedang
mati-matian bertarung di atas sana, melawan musuh yang sangat ditakuti.
Beberapa hari setelah menonton film itu, seorang teman
saya suatu kali berujar, “Petuah ‘tidak ada resep’ itu sebenarnya sudah banyak
disarankan oleh orang-orang sukses. Tidak ada resep untuk sukses. Tidak ada
jalan pintas. Kita hanya harus berusaha, betapapun sulitnya usaha itu.”
Jadi, tidak ada resep untuk sukses. Atau, dengan kata
lain, resep untuk sukses adalah ‘tidak ada resep’.
WaLlahu a’lam. Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar