cerita, renungan, rangkuman, dan catatan personal seorang pengembara ilmiah

Jumat, 09 Januari 2015

Resep untuk Sukses adalah ‘Tidak ada Resep’

Berapa banyak orang yang kecewa karena merasa ditipu oleh buku yang menjanjikan kiat mudah meraih sukses? Atau jurus menjadi kaya dalam 10 hari? Atau pintar bahasa ini-itu dalam satu minggu?

Saya menduga, fenomena kecewa atau merasa di-php oleh buku-buku jurus pintas semacam itu pasti tidak sedikit. Tapi pernahkan kita bertanya: kenapa kita kecewa? Atau lebih tepatnya, kenapa kita gagal menerapkan buku-buku itu? Pada kesempatan ini, saya akan mencoba mengajukan sebuah penalaran. Semoga bisa menyibak kabut yang menghalangi kita dari pemahaman. Minimal nyambung.

Pertama
Penulis buku bukanlah pencipta keajaiban. Betapapun indahnya kata bijak yang mereka kutip, mereka rangkai; betapapun kita terpesona olehnya, kata-kata itu tidak lebih hanyalah beberapa baris kata biasa, yang tak berarti, jika kita tak memahaminya secara komplit. Seringkali orang terpesona oleh untaian indah kata bijak, tapi tak memahami makna yang tersirat di dalamnya. Inilah sumber kekecewaan dan perasaan-ditipu yang dialami sebagain orang.

Hanya karena seseorang yang sukses menulis kiat kesusksesannya, bukan berarti mereka memberitahukan semua yang mereka kerjakan untuk meraih kesuksesan itu. Percayalah, mereka melakukan sesuatu yang lain yang tak tertulis, di luar apa yang mereka sarankan dalam tulisan.

Buku yang mereka tulis hanyalah penyederhanaan, semacam intisari dari sekian pengalaman dan percobaan yang pernah mereka jalani untuk meraih kesuksesan mereka. Pembacalah yang harus menerjemahkan intisari itu ke dalam konteks kehidupannya sendiri, agar dia menemukan makna yang cocok untuk kesuksesan yang diperjuangkannya. Seringkali upaya ini membutuhkan waktu.

Hanyalah kita yang mau berpikir ajaib, yang akan menjadikan sesuatu di tangan kita ajaib. Begitu juga halnya dengan buku kiat sukses, akan menjadi ajaib di tangan yang mampu menjadikannya ajaib. Orang ajaib ini adalah dia yang mampu atau minimal mau berusaha menemukan makna di balik kata-kata.

Kedua
Dari jawaban pertama yang diajukan, ada baiknya kita nonton film Kungfu Panda 1. Hehe…

Ada scene menarik ketika Po mendapati bahwa isi gulungan naga yang selama ini dianggapnya mampu menciptakan kejaiban, membuatnya sakti, ternyata kosong. Bahkan seluruh pendekar di Istana Giok pun terkejut, tidak menyangka isi gulungan itu kosong.

Walhasil, rasa frustasi pun melanda banyak orang, terutama Po yang selama ini diyakini sebagai Kesatria Naga, satu-satunya solusi untuk mengalahkan musuh yang sedang dalam perjalanan. Ketika Po dalam perjalanan menuju tempat yang lebih aman, Ayahnya yang penjual mie, memberitahunya sebuah resep mie.

Dia mengatakan, bahwa resep untuk mie buatannya yang sangat lezat, yang selama ini dikagumi masyarakat, ternyata tidak ada. Tidak ada resep sama sekali. Itu hanya mie biasa.

“Resepnya adalah tidak ada. Tidak ada resep,” begitulah kira-kira kata sang ayah.


Po terkejut. Ia lantas membuka gulungan naga di tangannya, dan terbelalak karena mendapatkan pemahaman baru: tidak ada resep untuk menjadi Ksatria Naga. Ternyata, inilah rahasia di balik kosongnya gulungan naga. Ia pun bergegas kembali, menyelamatkan gurunya yang sedang mati-matian bertarung di atas sana, melawan musuh yang sangat ditakuti.

Beberapa hari setelah menonton film itu, seorang teman saya suatu kali berujar, “Petuah ‘tidak ada resep’ itu sebenarnya sudah banyak disarankan oleh orang-orang sukses. Tidak ada resep untuk sukses. Tidak ada jalan pintas. Kita hanya harus berusaha, betapapun sulitnya usaha itu.”

Jadi, tidak ada resep untuk sukses. Atau, dengan kata lain, resep untuk sukses adalah ‘tidak ada resep’.

WaLlahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar