cerita, renungan, rangkuman, dan catatan personal seorang pengembara ilmiah

Senin, 05 Januari 2015

Teman

“Siapakah sebenarnya teman itu?” Suatu hari, kita mungkin bertanya.

Pada dasarnya, kita akan selalu punya makna versi kita sendiri, tidak peduli kita ilmuan, akademisi, bakul sayur atau bahkan tukang sapu. Maka tidaklah aneh jika ada yang berujar, “Kita akan menemukan makna kata teman hanya ketika sang teman telah benar-benar hadir di hadapan kita. Teman itu sendirilah makna teman yang sebenarnya”.

Meski begitu, kita toh tetap butuh kamus dan petuah para ahli.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘teman’ disinonimkan dengan ‘kawan’ dan ‘sahabat’. Saat kata sahabat dicari, rupanya kata sahabat itu sendiri disinonimkan dengan teman dan kawan. Jadi, definisi yang dicari pasti ada dalam definisi kata ‘kawan’.

Menurut KBBI, kawan ialah orang yg sudah lama dikenal dan sering berhubungan dalam hal tertentu (dalam bermain, belajar, bekerja, dsb); teman; sahabat; sekutu. Karena teman bersinonim dengan kawan, maka pengertian teman pastilah tidak jauh dari pengertian kawan yang baru saja diuraikan.

Bila diperhatikan dengan sekasama dan dalam tempo yang secukup-cukupnya, pemaknaan di atas terkesan begitu hampa, karena hanya menyangkut dimensi fisik (saja?). Sama sekali tidak terasa adanya unsur batin, yakni hubungan rasa dan hubungan batin antar sesama teman. Padahal, jasad tanpa batin hanya seonggok daging tak bernyawa.

Sementara itu, dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, definisi yang diajukan lebih general. Di sana dikatakan, bahwa teman adalah ‘a person one knows and likes, usually somebody who is not a member of one’s family’. Dalam bahasa lebih renyah, kamus tersebut berusaha mengatakan bahwa teman adalah seseorang yang kita kenal dan kita suka, yang biasanya bukan anggota dari keluarga kita. Di sini, ada unsur hubungan batin dan hubungan rasa yang ditekankan, yaitu rasa suka (setidaknya). Kelebihan definisi ini adalah keluasan konteks yang tercakup di dalamnya.

Definisi berikut sangat menarik, kesukaan saya. Syeikh Al-Bajuri rahimahuLlah dalam mukaddimah beberapa kitabnya (lihat Hasyiah Syeikh Ibrahim Al-Bajuriy atas kitab Fatkhul Qorib; dan Fathu Robbil Bariyyah, kitab syarah untuk nadzom Imrithiy) menulis:

"الصَّــدِيْقُ مَنْ يَـفْرَحُ لِـفَرحِـَك ويَـحْزَنُ لحُـزنِـك. وضِــدُّهُ العَـــدُوُّ، وهـو من يــحزن لــفرحـك ويــفرح لــحزنك"

Artinya: “Teman adalah seseorang yang merasa senang ketika kamu senang, dan merasa sedih ketika kamu sedih. Lawan kata dari teman adalah musuh, yaitu orang yang merasa sedih ketika kamu senang, dan merasa senang ketika kamu sedih.

(Terjemahan di atas bukan terjemahan kata demi kata, namun terjemahan berdasarkan makna keseluruhan dari lafadz dalam tanda petik.)

Pengertian terakhir ini bahkan lebih umum lagi, karena tidak ada syarat harus dikenal dulu untuk menjadi seorang teman. Maksudnya, seseorang sah-sah saja mengaku teman Afif (misalnya), meskipun Afif tidak mengenalnya, asalkan ada hubungan rasa sebagaimana dalam definisi Syeikh Al-Bajuri di atas. Di sini, unsur hubungan batin dan hubungan rasa (atau sebut sajalah hubungan spiritual) menjadi unsur paling utama.

Akhir catatan, harus diakui bahwa rasa adalah sesuatu yang hakikatnya hanya bisa ditemukan dengan merasakannya. Mencarinya dari keadaan dan alam fisik hanya akan merendahkan rasa yang sebenarnya, bahkan berpotensi menjerumuskan ke jurang perpecahan dan permusuhan, apalagi jika rasa itu sebenarnya amat positif (seperti pertemanan, cinta, kasih). Oleh karenanya, seyogyanya kita tanamkan nasihat Imam Syafi’i berikut ini, dalam menjalani hidup sehari-hari:

“Barangsiapa mencari teman tanpa kekurangan, maka dia hanya mempersulit diri sendiri. Barangsiapa mencela seorang teman karena kesalahannya, maka dia telah memperbanyak musuhnya”.


WaLlahu a’lam. Semoga ada manfaat yang bisa diambil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar