“Siapakah sebenarnya teman itu?” Suatu hari, kita
mungkin bertanya.
Pada dasarnya, kita akan selalu punya makna versi kita
sendiri, tidak peduli kita ilmuan, akademisi, bakul sayur atau bahkan tukang
sapu. Maka tidaklah aneh jika ada yang berujar, “Kita akan menemukan makna kata
teman hanya ketika sang teman telah benar-benar hadir di hadapan kita. Teman
itu sendirilah makna teman yang sebenarnya”.
Meski begitu, kita toh tetap butuh kamus dan petuah
para ahli.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘teman’
disinonimkan dengan ‘kawan’ dan ‘sahabat’. Saat kata sahabat dicari, rupanya
kata sahabat itu sendiri disinonimkan dengan teman dan kawan. Jadi, definisi
yang dicari pasti ada dalam definisi kata ‘kawan’.
Menurut KBBI, kawan ialah orang yg sudah lama dikenal dan sering berhubungan dalam hal
tertentu (dalam bermain, belajar, bekerja, dsb); teman; sahabat; sekutu. Karena teman bersinonim dengan kawan, maka pengertian teman
pastilah tidak jauh dari pengertian kawan yang baru saja diuraikan.
Bila diperhatikan dengan sekasama dan
dalam tempo yang secukup-cukupnya, pemaknaan di atas terkesan begitu hampa,
karena hanya menyangkut dimensi fisik (saja?). Sama sekali tidak terasa adanya
unsur batin, yakni hubungan rasa dan hubungan batin antar sesama teman.
Padahal, jasad tanpa batin hanya seonggok daging tak bernyawa.
Sementara itu, dalam Oxford
Advanced Learner’s Dictionary, definisi yang diajukan lebih general.
Di sana dikatakan, bahwa teman adalah ‘a person one knows and likes, usually
somebody who is not a member of one’s family’. Dalam bahasa lebih renyah,
kamus tersebut berusaha mengatakan bahwa teman adalah seseorang yang kita
kenal dan kita suka, yang biasanya bukan anggota dari keluarga kita. Di
sini, ada unsur hubungan batin dan hubungan rasa yang ditekankan, yaitu rasa
suka (setidaknya). Kelebihan definisi ini adalah keluasan konteks yang tercakup
di dalamnya.
Definisi berikut sangat menarik,
kesukaan saya. Syeikh Al-Bajuri rahimahuLlah dalam mukaddimah beberapa kitabnya
(lihat Hasyiah Syeikh Ibrahim Al-Bajuriy atas kitab Fatkhul Qorib;
dan Fathu Robbil Bariyyah, kitab syarah untuk nadzom Imrithiy)
menulis:
"الصَّــدِيْقُ مَنْ يَـفْرَحُ
لِـفَرحِـَك ويَـحْزَنُ لحُـزنِـك. وضِــدُّهُ العَـــدُوُّ، وهـو من يــحزن
لــفرحـك ويــفرح لــحزنك"
Artinya: “Teman adalah seseorang yang merasa senang
ketika kamu senang, dan merasa sedih ketika kamu sedih. Lawan kata dari teman
adalah musuh, yaitu orang yang merasa sedih ketika kamu senang, dan merasa
senang ketika kamu sedih.”
(Terjemahan di atas bukan terjemahan kata demi kata,
namun terjemahan berdasarkan makna keseluruhan dari lafadz dalam tanda petik.)
Pengertian terakhir ini bahkan lebih umum lagi, karena
tidak ada syarat harus dikenal dulu untuk menjadi seorang teman. Maksudnya,
seseorang sah-sah saja mengaku teman Afif (misalnya), meskipun Afif tidak
mengenalnya, asalkan ada hubungan rasa sebagaimana dalam definisi Syeikh Al-Bajuri
di atas. Di sini, unsur hubungan batin dan hubungan rasa (atau sebut sajalah
hubungan spiritual) menjadi unsur paling utama.
Akhir catatan, harus diakui bahwa rasa adalah sesuatu
yang hakikatnya hanya bisa ditemukan dengan merasakannya. Mencarinya dari
keadaan dan alam fisik hanya akan merendahkan rasa yang sebenarnya, bahkan
berpotensi menjerumuskan ke jurang perpecahan dan permusuhan, apalagi jika rasa
itu sebenarnya amat positif (seperti pertemanan, cinta, kasih). Oleh karenanya,
seyogyanya kita tanamkan nasihat Imam Syafi’i berikut ini, dalam menjalani
hidup sehari-hari:
“Barangsiapa mencari teman tanpa kekurangan, maka dia
hanya mempersulit diri sendiri. Barangsiapa mencela seorang teman karena
kesalahannya, maka dia telah memperbanyak musuhnya”.
WaLlahu a’lam. Semoga ada manfaat yang bisa diambil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar