"Hidup itu terasa lebih hidup ketika kita memperjuangkan sebuah idealisme," kata seorang teman kuliah, pada suatu hari. Ketika ia sebut kata idealisme, yang dimaksud sebenarnya adalah sabda baginda Nabi SAW:
"Khoirun naas anfa`uhum lin naas"
Artinya, manusia paling baik adalah yang paling memberikan manfaat kepada sesamanya. Ketika masih mahasiswa aktif, inilah idealisme kami. Sabda inilah yang menjadi motto pergerakan hidup kami. Sabda ini pulalah yang menjadikan kami 'aktivis' pengabdian masyarakat. Barangkali hingga kini pun, setelah sekian tahun kami lulus, idealisme pengabdian itu masih mengalir dalam pembuluh-pembuluh darah kami, meski dalam ranah yang sudah berbeda satu sama lain.
Memang, semasa menjadi mahasiswa, kita seringkali dihadapkan pada keresahan-keresahan. Demi membenarkan takdir dan perannya sebagai agent of change (agen perubahan), di luar kegiatan kuliah, selalu saja ada sejumlah mahasiswa yang mencari-cari lahan permasalahan untuk digarap. Kedengarannya konyol memang. Ketika banyak orang menghindari masalah, mereka (para mahasiswa) malah mencarinya. Mereka mencari problematika nyata dalam hidup, untuk mereka upayakan pemecahannya, sehingga dengan demikian, mereka telah berusaha memenuhi takdir mereka sebagai agen perubahan.
Ya, agen perubahan. Begitulah kita didefinisikan saat menjadi mahasiswa. Bukan untuk menyombongkan diri atau merasa hebat, tetapi sebagai penyadaran akan adanya bagian penting dari peran kita umat manusia di bumi. Bukankah Allah menakdirkan kita sebagai pemimpin 'sejak' pertama kali Dia hendak menciptakan manusia pertama?
Jika peran mahasiswa adalah sebagai agen perubahan, lantas apa perannya setelah selesai dari dunia perkuliahan? Apakah peran itu justru mengkerut ataukah menjadi lebih besar? Tidak seorang pun berhak memaksakan jawabannya atas pertanyaan itu, karena setiap orang memiliki hak memilih perannya masing-masing.
Bagaimanapun, seorang profesor tidak semestinya memainkan peran sebagai petugas kebersihan, meskipun peran itu juga mulia, bukan? Dalam konteks menempa diri untuk menghindari sifat sombong dan merasa hebat, memang benar, kita malah kagum dengan seorang profesor yang rendah hati dan sudih mengerjakan pekerjaan seorang cleaning service, katakanlah demi umat. Namun dalam konteks kadar tanggung jawab dan kewajiban, seorang profesor haruslah bisa mempertanggungjawabkan kepfrofesorannya, dengan menempuh jalan yang sesuai dengan titelnya itu.
Artinya, peran hidup yang diambil seseorang sebaiknya disesuaikan dengan kompetensi yang dimiliki. Dalam hal ini, kita tidak sedang berbicara tentang hasrat berkuasa atau hawa nafsu duniawi lainnya, seperti kecintaan untuk diandalkan (hubbut taqoddum), ingin disanjung, ingin menjadi pusat perhatian, dsb. Di atas itu semua, yang lebih diutamakan untuk dikedepankan adalah rasa bertanggung jawab, integritas dan kesanggupan untuk mengemban.
Bagaimana denga keraguan? Jika kita disibukkan dengan keraguan setiap kali hendak berbuat baik, maka ketahuilah, bahwa hakikat dari keraguan itu diduga kuat adalah godaan dan bisikan setan yang menginginkan agar kita tidak jadi berbuat baik dan beribadah. Barangkali cukup beralasan jika kita katakan bahwa keraguan adalah musuh bagi keaktifan. Yakni, keraguan termasuk di antara sumber kepasifan. Bayangkan saja, berapa banyak kesempatan berbuat baik yang terlewatkan hanya karena ragu: takut tidak ikhlas atau takut dituduh tidak ikhlas?
Seorang sufi dan ahli ma`rifat pernah berkata, "Jika setan membisikkan di hatimu ketika kau sedang sholat, 'Kau sedang pamer', maka buatlah sholatmu lebih lama". Maqolah ini memberikan motivasi, bahwa keraguan terhadap keikhlasan dan ketulusan niat yang muncul ketika seseorang hendak melakukan kebaikan tidak semestinya membuat ia tidak jadi melakukannya.
Di samping kompetensi, menurut hemat penulis, ada hal lain yang perlu dipertimbangkan dan tidak boleh diabaikan, yaitu kesanggupan (semacam prasetia) untuk mau berusaha, belajar dan bertanggung jawab. Seringkali, seseorang tidak harus sudah kompeten untuk memikul sebuah tanggung jawab atau sebuah peran. Ketika situasi dan kondisi mendesakkan munculnya sosok yang memainkan sebuah peran dan memikul tanggung jawab tertentu, jika tidak ada orang yang mau memikulnya, maka dia yang hati nuraninya terpanggil sebaiknya tidak mengabaikannya. Andai ia tidak kompeten, asalkan ia berkomitmen dan berkesanggupan untuk mau belajar, berusaha dan bertanggung jawab, in syaa Allah ia akan dianugerahi kompetensi itu seiring berjalannya waktu, dan dengan demikian, ia menjadi mampu menjalankan tugas yang diembannya dengan lebih baik dan lebih baik lagi.
Yang jelas, Allah membekali umat manusia dengan akal dan hati (nurani) untuk bisa hidup bahagia dan sukses menjalani berbagai perannya, dengan terus belajar dan terus menempa diri. Tentu saja, Allah tak meninggalkan manusia tanpa petunjuk; Sebagai salah satu bentuk kasih sayang-Nya, Dia berikan umat manusia Al-Qur'an sebagai penunjuk jalan (lihat Mannaa`ul Qoththon), Al-Hadist dan para ulama berikut tulisan-tulisan mereka. Bahkan dalam kadar tertentu, nafsu yang menggerakkan kepada kebaikan, dapat diandalkan sebagai bahan bakar beramal baik. Instrumen-instrumen pemberian Allah ini juga berfungsi sebagai pemandu menuju hidup bahagia, sejahtera, damai, rukun dan harmonis. Sayang sekali, bukan, jika tidak digunakan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya?
WaLlahu a`lam bishshowab.
Semoga bermanfaat. Mohon maaf bila ada kata yang tidak berkenan.
Terimakasih sudah banyak berbagi pak
BalasHapus