cerita, renungan, rangkuman, dan catatan personal seorang pengembara ilmiah

Jumat, 04 September 2015

Keterampilan Berpikir Divergen untuk Calon Pemimpin Masa Depan


Pernah menjalani tes IQ? Sip, kalau pernah. Berarti anda pastinya sudah mengetahui ukuran kemampuan berpikir konvergen (memusat) anda. Berpikir konvergen, dalam ungkapan sederhana, serupa dengan berpikir untuk mencari dan menemukan jawaban tunggal, pasti dan sudah siap sedia, macam pertanyaan: “1 tambah 1 sama dengan berapa, Anak-anak?” Jawab mereka serempak: “Dua, Paaak!!!” Jika tidak dua, maka jawabannya pasti salah. Atau, dalam bidang sosial, pertanyaan bernada konvergen itu seperti: “Siapakah presiden pertama Negera Republik Indonesia?” atau soal yang berbunyi “Sebutkan lima sila Pancasila!”. Dua soal terakhir ini jawabannya pasti dan mutlak.

Mekanisme tes yang mengasah kemampuan konvergen banyak sekali ditemukan di ranah ilmu Matematika dan sains. Meski demikian, ilmu sosial juga kerap menyajikan ujian kekonvergenan berpikir, hanya saja intensitasnya relatif lebih sedikit.

Sementara itu, lawan kata konvergen adalah divergen. Jika konvergen berarti memusat, maka divergen berarti menyebar. Jadi, berpikir divergen berarti berpikir menyebar. Soal yang mengasah kemampuan berpikir divergen biasanya belum atau bahkan tidak memiliki jawaban pasti yang tersedia. Atau, soal tersebut memiliki jawaban pasti, tapi jumlah jawabnya tidak tunggal. Sebagai contoh, soal “Jelaskan pendapat anda mengenai dampak positif dan negatif dari kebijakan menaikkan harga BBM!” atau “Buatlah 4 macam persegi panjang yang luasnya 45 cm persegi, dengan syarat ukuran masing-masing tidak boleh sama” merupakan soal mengasah kemampuan berpikir divergen.

Oh ya, kadang soal konvergen bisa disebut dengan soal tertutup, sedangkan yang divergen bisa pula disebut soal terbuka.

Mengapa dua istilah itu penting dibahas di sini? Sebab, dua cara berpikir tersebut, termasuk tipe soal-evaluasi yang mengarah kesana, SECARA TEKNIS dan secara luas amat sangat mempengaruhi hasil pendidikan, dan terutama hasil proses belajar-mengajar di dalamnya.

Dalam hal berpikir konvergen, seorang pelajar yang hanya diuji untuk mengingat deretan kata dan menjawab soal yang jawabannya tunggal, kelak akan menjadi lulusan yang hanya mengingat fakta, namun kebingungan ketika dihadapkan pada realitas dan tantangan di tengah-tengah hidup bermasyarakat. Dengan kata lain, ia akan gagap, bahkan tak berkutik, ketika kehidupan memberinya tantangan untuk mengamalkan ilmunya. Meminjam gagasan Paulo Freire, tujuan pembelajaran adalah membekali peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan yang nantinya akan dapat ia gunakan untuk menyelesaikan persoalan yang ia hadapi di kehidupan sehari-hari. Atau dalam ungkapan lebih ringkas, tujuan belajar adalah mengamalkan ilmu yang diperoleh. Bahkan lebih dari itu, mengamalkan ilmu dengan baik akan mengantarkan pada tujuan manusia yang paling pokok: kebahagiaan sejati nan hakiki.

Hasilnya akan berbeda apabila pembelajaran menekankan gaya berpikir divergen. Di sini, pelajar diberikan kesempatan dan medan pelatihan, semacam kawah candradimuka, untuk mengasah keterampilan olah pikirnya, misalnya dengan diberikan persoalan nyata yang harus ia selesaikan berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang diajarkan kepadanya atau yang telah ia dapatkan. Karena untuk menyelesaikan tantangan itu, ia butuh bekal pengetahuan awal, maka pelatihan berpikir konvergen juga harus diberikan, tetapi lebih sebagai pembekalan menuju medan olah pikir divergen.

Melatih pelajar berpikir divergen dan melatihnya berjuang menyelesaikan persoalan kehidupan yang belum terjawab sejatinya melatih si pelajar untuk menjadi seorang pemimpin. Setelah ia lulus kelak, dunia yang akan ia hadapi sama sekali berbeda dari apa yang ia baca atau ia hafalkan dari buku-buku. Juga berbeda dari latihan yang dijalaninya melalui tes-tes tulis maupun lisan, yang hanya menekankan proses olah pikir konvergen saja.


Mengasah olah pikir divergen, antara lain dapat diwujudkan dalam bentuk diskusi yang membahas persoalan nyata, tugas penelitian sosial atau saintifik, atau tes tulis yang mengajak pelajar berpikir kreatif-inovatif, bukan sebatas latihan soal yang jawabnya bisa didapatkan hanya dari atas lembaran-lembaran buku. Soal konvergen tentu saja masih diperlukan, tapi perkembangan zaman menuntut lebih dari itu. Sebenarnya, gagasan ini sudah tertanam dalam K-13, terlepas dari perlunya simplifikasi mekanisme penilaian dan beberapa teknis pelaksanaan lainnya yang masih dirasa rumit.

Kepada pembaca, terima kasih sudah mengakses dan membaca tulisan sederhana ini. Semoga ada manfaat yang bisa dipetik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar