Saya suka sekali membaca. Membaca menjadi hobi dan saya bisa hampir sakau ketika rindu membaca, tetapi tidak menemukan seutas kata untuk dibaca. Sejumlah buku sudah saya baca, dengan berbagai topik dan tema. Ini bukan berarti saya pinter, cendekia atau intelek. Justru karena masih bodohlah, kebutuhan membaca bagi saya sangat penting. Dari lubuk hati terdalam, saya membaca hanyalah karena saya mencintainya. Barangkali tidak/belum bisa saya terangkan jelas apa dorongannya. Mungkin juga karena rasa membutuhkan. Seperti seorang lelaki kasmaran yang sedang jatuh cinta pada pujaannya. Ia demikian cinta dan butuh pada si dia. Sakau saat merindu. Sulit dilogikakan. Sekian intronya.
Seorang dosen dari Fakultas Ilmu Budaya Unair, suatu kali pernah berkata kepada saya dan beberapa teman lainnya, kurang lebih seperti ini: “Kita mungkin sering bicara tentang hegemoni (baca: belenggu, kerangkeng) dan mengkritisinya dengan penuh semangat, tapi kita tidak sadar bahwa kita juga sering menghegomni diri sendiri. Kita hegemoni diri kita, misalnya dalam memilih bacaan-bacaan, dengan membatasi hanya pada buku-buku itu-itu saja. Topik dan tema itu-itu saja.” Buku yang tidak searus dengan kita, kita anggap seolah barang haram.
Ah, bener juga ya, hati saya nyeletuk, baru nyadar kala itu. Buat saya pribadi, membatasi bacaan itu memang terkadang perlu dilakukan, antara lain demi melindungi diri dari paham dan pemikiran merusak. Khususnya bagi yang baru belajar. Tapi jika kita ingin mengkritisi atau ‘ngerasani’ gagasan, paham atau pemikiran yang tidak searus dengan aliran kita, ya willy-nilly kita harus menyelam ke dalamnya. Walaupun ada resiko yang menghadang di sana.
Bagaimanapun, itu demi kebaikan semua. Demi maslahat umat manusia lah. Jangan sampai kita koar-koar membicarakan paham dan ajaran aliran X, tanpa tahu apa itu sesungguhnya aliran X berikut paham dan ajarannya. Singkatnya, kita harus tahu dan paham dengan apa yang kita bicarakan. Jika tidak, (sangat mungkin) yang terjadi adalah kita jadi mendzolimi mereka yang beraliran X, dengan cara menuduh-nuduh, menerka-nerka dan bahkan mungkin memfitnah, karena kita asal bicara, tanpa cross-check, tanpa tabayyun. Jika demikian, niscaya kita yang celaka, dan sudah begitu, mencelakakan orang lain pula. (Dampak fitnah memang begitu cepat meluas nan merebak.). Duh Gusti Allah, na`ūdzu biKa min dzālik.
Apakah tidak dosa? WaLlaahu a`lam, hanya Allah yang paling tahu. Tapi bukankah Allah SubĥānaĤū wa Ta`ālā telah berfirman, bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan? Bahwa banyak berprasangka (prasangka: berpendapat sebelum melihat, mengetahui atau menyaksikan sendiri) atau dalam istilah qur’aninya disebut katsīrun minadz dzonn dan tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain) itu perilaku yang musti dijauhi (lihat surat Al-Ĥujūrāt ayat 12)? Bahkan kepada aliran yang jelas-jelas sesat sekalipun, atau non-muslim sekalipun, sikap lembut dan bijak harus tetap lebih dikedepankan.
Oleh sebab itulah, mempelajari jejak-jejak Walisongo menjadi relevan untuk dipejari, dijadikan teladan di masa sekarang, karena melalui beliau-beliaulah kita hirup udara sejuk bernama Islam, yang membawa rahmat dan kasih-sayang. Mereka berjasa besar atas inisiatif dan kreatifitasnya dalam menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya dan kearifan lokal, sehingga Islam mampu melebur dengan baik bersama masyarakat. Beliau-beliau itu emang top markotop deh pokoknya.
All in all, yuk kedepankanlah pengetahuan di atas prasangka. Bahkan di atas pengetahuan, Allahlah Yang Mahabenar plus Mahatahu, bukan? Dan, yuk, kita berharap-harap cemas (rumus dari para ulama shufi: rojā’ + khauf yang seimbang) agar Allah karuniakan kepada kita, jalan lapang, luas, yang diridoi-Nya, dan bersama-sama masuk surga serta ‘bertemu-muka’ dengan-Nya. Āmīn yā Rabbal `Ālamīn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar