cerita, renungan, rangkuman, dan catatan personal seorang pengembara ilmiah

Jumat, 18 September 2015

Sepatah Kata tentang Problematika Pendidikan dan Zaman

Pendidikan. Saya selalu senang membicarakannya, karena pendidikanlah, manusia bukan hewan. Lantaran pendidikan pula, manusia dapat melebihi derajat martabat malaikat.

Pendidikan, bisa dimana saja. Tak harus di sekolah. Di mana pun ada manusia, di situ ada interaksi, dan interaksi itu selanjutnya menjadi ajang pendidikan. Walhasil, segala aktivitas di alam tidak lain adalah bahan-bahan pokok berlangsungnya proses pendidikan, dengan tujuan antara lain untuk melatih dan menggembleng diri kita agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Karena manusia dan alam senantiasa berubah, maka pendidikan bersifat dinamis. Artinya, ia akan terus berubah bersama-sama dengan perubahan manusia dan alam yang didiaminya. Ini kodrat. Ini sudah dari sononya begitu. Oleh sebab itu, perubahan selalu diperlukan dalam pendidikan. Dan kadang, pada kadar tertentu, perubahan itu adalah revolusi, atau barangkali reformasi. Dari segi pola pikir, budaya, dan aspek-aspek lain yang terkait.

Memang, kita perlu waspada terhadap hal-hal baru. Kita tak boleh bersegera menerima kebaruan, tanpa memahami dengan baik dan komprehensif, seluk-beluknya. Tetapi kewaspadaan yang terlampau berlebihan justru akan menjadi kemandekan. Pada saatnya nanti, kemandekan bisa tumbuh menjadi petaka. Singkatnya, ia malah kontraproduktif terhadap kemajuan yang didambakan. Kewaspadaan yang berlebihan malah akan terkesan seperti sifat mudah curiga, su'udz dzon pada segala sesuatu yang baru. Padahal, kreativitas dan kebudayaan manusia selalu menuntut adanya pembaruan dan kegiatan menemukan dan mencipta. Selain itu, bukankah ada maqolah yang berbunyi 'Khoirul umuur awsathuhaa', bahwa hal yang terbaik adalah yang paling sedang?

Agaknya, inilah saatnya prinsip 'al muhaafadzotu `alal qodiimis shoolih wal akhdzu bil jadiidil ashlah' dikampanyekan seraya ditanamkan dalam pendidikan. Prinsip itu sendiri berarti mempertahankan tradisi lama yang masih baik/relevan dan di saat bersamaan, mengambil hal baru yang lebih baik/relevan. 

Yang tengah terjadi saat ini barangkali masih pada level mempertahankan tradisi lama yang baik/relevan, sementara gagasan untuk menambahkan unsur baru yang lebih masih menjadi PR yang belum juga dapat/sempat dikerjakan. Entah faktor macam apa yang menjadi penghambat, namun yang jelas, bukan faktor kecerdasan. Sebab, kenyataannya, manusia berkembang semakin cerdas dari masa ke masa (bahkan meskipun mereka tak selalu bersekolah dan tidak berpendidikan formal, namun kecerdasan dasar mereka terkadang amat mencengangkan, jika menyangkut kepiawaian bersilat lidah, yang berarti logika mereka tidak bisa diremehkan).

Lantas, apa penghambatnya? Selain faktor yang bersifat mendesak, seperti kesibukan mengais bekal material untuk kelangsungan hidupan (menurut hemat saya, faktor ekonomi semacam ini perlu dipertimbangkan, karena memang berpengaruh cukup besar), kurang tersedianya stimulus, dsb.

Dan yang tak kalah penting lagi adalah faktor ketakutan. Takut gagal mampu menghambat orang yang paling tangguh sekalipun, untuk melangkah. Takut bisa juga dipicu oleh budaya dan pola pikir lingkungan sekitar yang terkesan memandang perbedaan dengan cara yang kurang bijak, atau bahkan offensif. Bagaimana pun, waktu terus berjalanan. Pembaruan terus berlangsung secara alamiah, betapapun kita tidak menyukainya. Problematika pendidikan yang tak kunjung selesai adalah tantangan bagi umat manusia, entah dalam posisinya sebagai pembelajar, pendidik, orang tua, maupun pihak yang berkepentingan. Bagaimana dengan gagasan merevolusi mental? Well, sepertinya itu masih belum memungkinkan. Melarikan diri dari tantangan yang diberikan Allah sebagai pelatihan agar kita menjadi pribadi yang semakin berkualitas tentunya bukan perilaku yang bijak. Meniru strategi Walisongo, kita bisa mengajukan alternatif lain: Evolusi Mental. Tentunya, usaha ini membutuhkan kesabaran dan ketelatetan, termasuk dalam hal mengupayakan cara-cara dan pendekatan kreatif, 'merakyat', dan membumi, tanpa perlu menyalah-nyalahkan zaman, hanya karena kita lebih nyaman menyalahkan keadaan daripada beraksi dan melangkah mencari jawaban.

Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat. Mohon maaf bila ada kata yang tidak berkenan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar