cerita, renungan, rangkuman, dan catatan personal seorang pengembara ilmiah

Kamis, 11 Juni 2015

Rasa Alhamdu liLlaah

Ungkapan Alhamdu liLlaah biasa dikenal dengan sebutan kalimat hamdalah atau tahmid. Jika diurai, lafadz ini terdiri dari tiga kata: Alhamdu, li, dan Allah. Dalam tulisan ini, sama sekali tidak ada maksud untuk lancang memunculkan tafsir baru atas hamdalah seenak saya sendiri. Ini hanya sebuah kesan, intisari yang diperas dari serangkaian letupan rasa dan pengembaraan ilmiah dari satu buku ke buku, kitab ke kitab. Jadi uraian ini bukan cermin dari hamdalah itu sendiri, tetapi dari seorang manusia lemah yang menyimpulkan dari beberapa sumber, sumber yang in syaa Allah kredibel.

Pertama, ada kata alhamdu, secara umum berarti puji atau pujian. Kata li mempunyai makna milik, untuk, bagi, atau kepada. Sedangkan lafadz jalaalah, yakni lafadz Allah, kita sudah paham maksudnya secara umum. Selain makna-makna barusan, tentu masih ada makna lainnya, tetapi sebaiknya tidak dibicarakan di sini, demi memudahkan topik pembicaraan.

Jadi, makna hamdalah dapat disederhanakan menjadi

“puji milik/bagi/untuk/kepada Allah”.

Sangat sederhana. Sayangnya, ada konteks yang mungkin hilang.

Kita mungkin saja sering bertanya-tanya,

“saya sudah baca hamdalah, kok tidak terjadi apa-apa?”

Ini seperti kita bertanya,

“kata sandinya sudah benar, tapi mengapa tidak kebuka?”

Apa yang salah? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban yang benar-benar ‘menjawab’ secara pasti, kecuali Allah semata.

Di bawah segala kepasrahan, akhirnya hanya satu jawaban pasti: Hanya Allah-lah penentu efek hamdalah, dan hanya Allah pulalah yang bisa mengizinkan kita merasakan efek ini. Kepasrahan jelas berbeda dengan menyerah. Menyerah berarti jera, tetapi kepasarahan dan tawakkal adalah terus mencoba, karena kepasrahan terwujud dalam rasa pengertian bahwa, memang tugas makhluk untuk berusaha, sang Khaliq yang menentukan. Jadi, ada-tidaknya efek bukan faktor pantas untuk menghentikan seseorang berujar “Alhamdu liLlah”; begitu juga kalimat thayyibah lainnya.

Saya percaya, bahwa banyak ikhtiar, usaha, yang bisa dilakukan untuk membuka kepekaan rasa ini, yang akan membuat efek hamdalah bisa tercecap, atau minimal terlacak. Sekedar untuk ‘melacak’, diperlukan cukup pengetahuan. Dan ini mudah, karena semua orang punya otak.

“Kenapa tidak terjadi apa-apa?” Lagi-lagi pertanyaan itu mengusik kalbu. Kalau begitu, kita harus berhenti menanyakannya, dan mulai mengganti pertanyaan:

“Jika tidak terjadi apa-apa, lalu apa yang harus (dan bisa) saya lakukan?”

Meresapi dan memahami maknanya, mungkin itu jawaban yang paling dekat dengan kapasitas kita, dan paling bisa kita lakukan. Dan ini mudah, once more, karena semua orang punya otak.

Pertama-tama, ada beberapa prinsip penting:
1.  Cara memaknai punya andil besar,
2.  Mengetahui maknanya saja tidak cukup, tapi harus ‘mengembangkannya’ dan merenungkannya.

Makna hamdalah, seperti di kebanyakan terjemah yang saya temukan, adalah “segala puji bagi Allah”. Terjemah ini lebih baik daripada yang tadi di atas. Dan sebuah terjemah tidak pernah bersifat statis, tapi dinamis, jadi perlu dikembangkan. Misalnya, setelah merenung, timbul ‘monolog’:

“Jika saya sudah beucap ‘segala puji bagi Allah’, berarti saya telah mengakui bahwa segala puji adalah milik-Nya. Berarti saya sebenarnya tidak punya apapun untuk dipuji atau dielukan. Siapa pun yang memberi saya pujian, itu bukan untuk saya. Orang itu mungkin memuji saya, tapi saya tidak berhak menerimanya. Itu milik Allah, yang memiliki segala puji. Ya, milik Allah.”

Dengan rasa senada, cercaan dan hinaan tidak akan lagi menjadi peluru yang dilesatkan untuk melobangi kalbu, tapi justru menjadi siraman rahmat.

“Dengan hamdalah, saya telah mengakui bahwa segala puji memang milik Allah. Jadi, kalau orang menghina atau mencerca saya, itu memang pantas. Cercaan dan hinaan itu memang untuk saya dan saya wajar-wajar saya mendapatkannya, karena tidak ada apapun yang layak dipuji dari diri saya, lha wong, segala puji milik Allah. Karena cercaan dan hinaan itu untuk saya, maka demi menunjukkan keindahan Allah, saya akan berusaha untuk berbenah dan memperbaiki diri, sehingga yang tampak dari diri saya adalah keindahan Allah, bukan busuknya pribadi saya.”


Sekali lagi, ini hanya kesan. Jika ada manfaat yang bisa dipetik, semoga bisa diambil dengan baik dan bijak. Jika ada salahnya, semoga diingatkan dengan baik dan bijak pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar