Ungkapan Alhamdu
liLlaah biasa dikenal dengan sebutan kalimat hamdalah atau tahmid.
Jika diurai, lafadz ini terdiri dari tiga kata: Alhamdu, li, dan Allah.
Dalam tulisan ini, sama sekali tidak ada maksud untuk lancang memunculkan tafsir
baru atas hamdalah seenak saya sendiri. Ini hanya sebuah kesan, intisari yang
diperas dari serangkaian letupan rasa dan pengembaraan ilmiah dari satu buku ke
buku, kitab ke kitab. Jadi uraian ini bukan cermin dari hamdalah itu sendiri,
tetapi dari seorang manusia lemah yang menyimpulkan dari beberapa sumber,
sumber yang in syaa Allah kredibel.
Pertama, ada kata alhamdu,
secara umum berarti puji atau pujian. Kata li mempunyai
makna milik, untuk, bagi, atau kepada. Sedangkan
lafadz jalaalah, yakni lafadz Allah, kita sudah paham maksudnya secara
umum. Selain makna-makna barusan, tentu masih ada makna lainnya, tetapi
sebaiknya tidak dibicarakan di sini, demi memudahkan topik pembicaraan.
Jadi, makna hamdalah
dapat disederhanakan menjadi
“puji milik/bagi/untuk/kepada Allah”.
Sangat sederhana.
Sayangnya, ada konteks yang mungkin hilang.
Kita mungkin saja
sering bertanya-tanya,
“saya sudah baca hamdalah, kok tidak terjadi
apa-apa?”
Ini seperti kita
bertanya,
“kata sandinya sudah benar, tapi mengapa tidak
kebuka?”
Apa yang salah? Tidak
ada yang bisa memberikan jawaban yang benar-benar ‘menjawab’ secara pasti,
kecuali Allah semata.
Di bawah segala
kepasrahan, akhirnya hanya satu jawaban pasti: Hanya Allah-lah penentu efek
hamdalah, dan hanya Allah pulalah yang bisa mengizinkan kita merasakan efek
ini. Kepasrahan jelas berbeda dengan menyerah. Menyerah berarti jera, tetapi
kepasarahan dan tawakkal adalah terus mencoba, karena kepasrahan terwujud dalam
rasa pengertian bahwa, memang tugas makhluk untuk berusaha, sang Khaliq yang
menentukan. Jadi, ada-tidaknya efek bukan faktor pantas untuk menghentikan
seseorang berujar “Alhamdu liLlah”; begitu juga kalimat thayyibah
lainnya.
Saya percaya, bahwa banyak
ikhtiar, usaha, yang bisa dilakukan untuk membuka kepekaan rasa ini, yang akan
membuat efek hamdalah bisa tercecap, atau minimal terlacak. Sekedar untuk
‘melacak’, diperlukan cukup pengetahuan. Dan ini mudah, karena semua orang
punya otak.
“Kenapa tidak terjadi
apa-apa?” Lagi-lagi pertanyaan itu mengusik kalbu. Kalau begitu, kita harus
berhenti menanyakannya, dan mulai mengganti pertanyaan:
“Jika tidak terjadi apa-apa, lalu apa yang
harus (dan bisa) saya lakukan?”
Meresapi dan memahami
maknanya, mungkin itu jawaban yang paling dekat dengan kapasitas kita, dan
paling bisa kita lakukan. Dan ini mudah, once more, karena semua orang
punya otak.
Pertama-tama, ada
beberapa prinsip penting:
1. Cara memaknai punya andil besar,
2. Mengetahui maknanya saja tidak cukup, tapi harus ‘mengembangkannya’ dan
merenungkannya.
Makna hamdalah,
seperti di kebanyakan terjemah yang saya temukan, adalah “segala puji bagi
Allah”. Terjemah ini lebih baik daripada yang tadi di atas. Dan sebuah terjemah
tidak pernah bersifat statis, tapi dinamis, jadi perlu dikembangkan. Misalnya,
setelah merenung, timbul ‘monolog’:
“Jika saya sudah
beucap ‘segala puji bagi Allah’, berarti saya telah mengakui bahwa
segala puji adalah milik-Nya. Berarti saya sebenarnya tidak punya apapun untuk
dipuji atau dielukan. Siapa pun yang memberi saya pujian, itu bukan untuk saya.
Orang itu mungkin memuji saya, tapi saya tidak berhak menerimanya. Itu milik
Allah, yang memiliki segala puji. Ya, milik Allah.”
Dengan rasa senada,
cercaan dan hinaan tidak akan lagi menjadi peluru yang dilesatkan untuk
melobangi kalbu, tapi justru menjadi siraman rahmat.
“Dengan hamdalah, saya
telah mengakui bahwa segala puji memang milik Allah. Jadi, kalau orang menghina
atau mencerca saya, itu memang pantas. Cercaan dan hinaan itu memang untuk saya
dan saya wajar-wajar saya mendapatkannya, karena tidak ada apapun yang layak
dipuji dari diri saya, lha wong, segala puji milik Allah. Karena cercaan
dan hinaan itu untuk saya, maka demi menunjukkan keindahan Allah, saya akan
berusaha untuk berbenah dan memperbaiki diri, sehingga yang tampak dari diri
saya adalah keindahan Allah, bukan busuknya pribadi saya.”
Sekali lagi, ini hanya
kesan. Jika ada manfaat yang bisa dipetik, semoga bisa diambil dengan baik dan
bijak. Jika ada salahnya, semoga diingatkan dengan baik dan bijak pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar