Untuk meniti jalan menuju surga, harus kita sadari bahwa penggerak kita
untuk (giat) beribadah adalah taufiq dari Alloh dan dorongan hati yang
sumbernya juga dari Allah, baik secara langsung maupun melalui perantara.
Inilah maksud dari firman Allah:
أَفَمَـــــنْ شَــــرَحَ اللهُ صَدْرَه لِلْإِسْـــــلَامِ فَـــهُوَ عَـلَى نُـــوْرٍ مِنْ رَبِّـــــــه
Artinya:
“Maka apakah orang-orang
yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat
cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan
yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.
Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”
(Az-Zumar: 22)
Senada dengan itu, Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya, jika cahaya
(nur) telah masuk ke dalam hati, maka menjadi lapanghlah hati tersebut.” Para
sahabat kemudian bertanya, “Ya RasuluLlah, adakah tanda untuk mengetahui hal
tersebut?” Beliau menjawab, “Menjauhkan diri dari dunia yang penuh dengan
tipu-daya dan menuju akhirat yang kekal, serta berusaha bersiap-siap menghadapi
kematian sebelum ajal menjemput”.

Dorongan dan taufiq ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin kita
dapatkan. Kita bisa mengusahakannya dengan cara berkontemplasi dan merenungkan
tanda-tanda kebesaran Allah yang bertebaran di sekitar kita dan tanda-tanda
yang ada pada diri kita. Tidak hanya itu, kita juga harus mencari petunjuk melalui
Rasul-Nya, Al-Qur’an dan Hadis, dan para ulama pewaris para nabi. Ini berarti, mencari
ilmu adalah suatu keharusan. Inilah tahap paling awal dalam meniti jalan menuju
surga, yaitu: Mencari Ilmu. Tujuan kita adalah mengenal Allah dan
memahami kiat-kiat beribadah.
Beranjak dari tahapan ilmu, mulailah muncul dorongan untuk melaksanakan
ibadah, baik secara lahir maupun batin. Namun, saat menuju medan ibadah,
tiba-tiba kita mendapati diri kita penuh dengan dosa. Timbullah rasa cemas:
Bagaimana aku akan beribadah, sementara diriku berlumur dosa? Di sinilah, kita
dihadapkan pada tahap kedua, yaitu Taubat.
Kemudian, setelah melalui tahap ini, ada empat pihak yang menghalangi
fokus kita dalam beribadah: hal-hal duniawi, makhluk (manusia), setan dan nafsu
(diri kita sendiri). Di sini, kita berada pada tahap ketiga: Mengatasi Penghalang.
Tahap ini bisa dilalui dengan empat kiat: menjauhi hal-hal yang bersifat
duniawi, mengungsikan diri dari makhluk (manusia) untuk beribadah, memerangi
setan dan memaksa diri kita untuk beribadah. Dengan dilaluinya tahap ini, kita
sampai pada tahap keempat: Mengatasi Kendala.
Yang dimaksud kendala di sini ada empat, yaitu: rejeki, kekhawatiran,
kesulitan dan musibah, dan ketentuan Allah. Ini juga dapat diatasi dengan empat
cara: tawakkal dalam urusan rejeki, pasrah di tengah desir kekhawatiran,
bersabar ketika kesulitan dan musibah menimpa, dan yang terakhir adalah
ridho/menerima ketentuan apapun yang digariskan oleh Allah. Dengan cara
demikian dan tentu saja atas izin Allah, kita berharap bisa melalui tahap ini
dan melanjutkan ke tahap kelima: Motivasi dan Dorongan Beribadah.
Tidak dapat dipungkiri, motivasi dan dorongan sangat dibutuhkan dalam
beribadah. Setidaknya, ada dua wujud motivasi dan dorongan. Yang pertama adalah harapan akan
datangnya janji Allah untuk hambanya yang taat beribadah, dan yang kedua adalah rasa takut
terhadap ancaman yang ditujukan kepada hambanya yang lalai dan durhaka.
Dengan melalui lima tahap di atas, in syaa Allah, kita akan benar-benar bersemangat
beribadah. Namun, beribadah dengan giat saja ternyata tidak cukup. Terkadang
dalam beribadah, muncul rasa pamrih dan niat terselubung untuk pamer,
mengharapkan sanjungan, bahkan merasa sudah hebat karena mampu melaksanakan
ibadah dengan rajin. Ini berpotensi mengurangi kualitas ibadah kita, bahkan
merusak dan menghilangkan pahalanya. Kita juga bisa tiba-tiba saja mengurungkan
niat beribadah, hanya karena takut tidak bisa ikhlash, takut riya’ dan takut
pamrih. Kita sampai pada tahap keenam: Perusak Pahala Ibadah.
Akhirnya, setelah enam tahap kita lalui, kita telah mengalami pencapaian
demi pencapaian. Kita telah beribadah dengan baik dan menyelesaikan berbagai problematikanya.
Kita jadi merenung, dan menyadari bahwa diri kita kini sedang asyik-masyuk,
tenggelam dalam kenikmatan beribadah, bermesraan dalam lautan ibadah dan cinta
kepada Allah, lalu kita teringat bahwa segala kenikmatan ini harus disyukuri.
Bahwa tidak bersyukur dapat menyebabkan berkurangnya kenikmatan-kenimatan
tersebut. Bahwa tidak mensyukuri nikmat adalah kufur nikmat. Kita pun sampai
pada tahap terakhir: Memuji Allah dan Bersyukur. Kita berharap melalui
istiqomah bersyukur, nikmat besar ini akan semakin bertambah hingga akhirnya
kita sampai pada tujuan utama kita: Kebahagiaan di Akhirat kelak.
Tujuh tahap inilah yang (akan) kita temui saat kita meniti jalan menuju
surga. Ketika kita berhasil melalui seluruh tahap, perjalanan kita akan menjadi
lebih mudah. Akan tumbuh dalam diri kita, rasa cinta kepada Allah, semangat
untuk terus berkhidzmah kepada-Nya. Sisa-sisa umur kita niscaya menjadi usaha
mempersiapkan diri bertemu dengan Allah, sambil menanti datangnya ajal dengan
penuh kekhusyu’an. Dan saat kita bertemu dengan-Nya nanti, Allah pun menerima
kita dengan penuh kasih sayang. Dengan rahmat dan taufiq-Nya, hal ini sama
sekali tidak mustahil.
* * *
Demikianlah secara global tujuh
tahap yang kita hadapi di sepanjang jalan menuju surga. Imam Al-Ghozali
selanjutnya menguraikan tiap tahap, masing-masing dalam bab tersendiri. Dan
dengan selesainya bab mengenai rincian ketujuh tahap ini, berakhir pulalah
kitab Minhajul Abidin.
Semoga Allah tidak menggolongkan kita dalam kelompok orang yang hanya
bersemangat mencari dan mewariskan cerita, tanpa mau mengamalkan ilmunya.
Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan taufiq-Nya kepada kita, mengkokohkan
iman kita dan menerima kita di sisi-Nya kelak dengan membawa iman. Amin.
Wallahu a’lam.
Jika diperbolehkan memberi tanggapan, ada yang ingin saya tanggapi, yakni:
BalasHapusDi bagian ayat AL-Qur'an Surat Az-Zumar ayat 22 di atas, setelah dicocokkan dengan kitab suci Al-Qur'an, antara ayat dengan artinya sepertinya ada yang kurang pas.
Ayat yang dituliskan di atas ialah "ِأَفَمَـــــنْ شَــــرَحَ اللهُ صَدْرَه لِلْإِسْـــــلَامِ فَـــهُوَ عَـلَى نُـــوْرٍ مِنْ رَبِّـــــــه" yang berarti terjemahannya seharusnya hanya "Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?".
Tetapi pada tulisan di atas, terjemahannya dituliskan sampai "Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata", yang berarti ayatnya seharusnya dilengkapi dengan "فَوَيْلٌ لِّلْقسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللهِ أُولئِكَ فِى ضَلَالٍ مُّبِيْنٍ".
Mungkin bisa dijelaskan oleh penulis yang seharusnya bagaimana?
Jika saya yang salah, mohon diluruskan.
Terima kasih.