cerita, renungan, rangkuman, dan catatan personal seorang pengembara ilmiah

Jumat, 04 Juli 2014

Jalan Menuju Surga: Pendahuluan 1

Dalam bulan Ramadhan ini, saya mengikuti program ngaji kilat yang diadakan di pesantren. Saya memilih mempelajari dua kitab yang membahas adab/etika beribadah, yang biasa kita kenal dengan sebutan Ilmu Tasawwuf. Dua kitab tersebut adalah kitab syarah (kitab penjelas) dari kitab Al-Hikam karya Ibnu AthoiLlah As-Sakandari, yang ditulis oleh Syeikh AbduLloh Asy-Syarqowi, dan kitab Minhajul Abidin karyaImam Abu Hamid Al-Ghozaliy, rahimahumuLloh. Pengajian tersebut dilaksanakan setiap ba’da sholat tarawih di masjid pesantren, biasanya selama 19 hari pertama Ramadhan.

Pada kesempatan ini, saya bermaksud mengambil sari-sari kitab Minhajul Abidin dari ngaji saya selama 19 hari pertama Ramadhan, untuk dibagikan kepada para pembaca. Semoga bermanfaat.

* * *

Ibadah adalah buah dari ilmu yang kita pelajari. Ibadah adalah jalan menuju surga dan kebahagiaan hakiki. Namun, jalan ini tidak populer, cenderung tidak disukai dan begitu sulit ditempuh, karena dikelilingi dengan berbagai hal yang dibenci. RasuluLloh SAW. telah bersabda: “Ingatlah bahwa surga dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci, sedangkan neraka dikitari dengan berbagai kesenangan”.

Pada saat yang sama, sebagai hamba, kita sangat lemah: kita tidak terus muda dan enerjetik, umur kita pun tidak panjang, sementara kesibukan duniawi kita sangat banyak. Praktis, kesempatan ibadah kita pun sedikit. Kondisi ini bahkan diperparah dengan kenyataan bahwa zaman telah demikian rusak dengan berlimpahnya hiburan dan kebatilan, sehingga menyulitkan kita untuk fokus beribadah. Padahal, Allah selalu memantau kita.

Sedikit sekali mereka yang memilih jalan ini, lebih sedikit lagi mereka yang benar-benar menempuhnya, dan di antara mereka yang menempuhnya, hanya sedikit yang sampai pada tujuan. Mereka yang telah sampai pada tujuan adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Alloh untuk dapat mengenal dan mencintai-Nya. Semoga dengan rahmat-Nya, Alloh menjadikan kita bagian dari barisan orang-orang terpilih.

Lantas, apa bekal ilmu dan kiat-kiat, persiapan, alat dan strategi kita untuk menempuh jalan ini dengan sebaik-baiknya? Demi memberitahukan jawaban dari pertanyaan ini, Imam Al-Ghozali kemudian menulis beberapa kitab, antara lain kitab Ihya Ulumuddin, Al-Qurbatu IlaLloh, dsb. yang memuat detail rumit dan sulit untuk dipahami khalayak umum. Namun mereka mencela kitab-kitab tersebut dan menggunjingkan tentang apa yang tidak mereka anggap bagus. Menyadari hal ini, Imam Ghozali pun berpasrah diri kepada Alloh, memohon agar Alloh memberi beliau taufiq, untuk menulis lagi sebuah kitab yang dapat dipahami semua kalangan, yang dapat memberikan manfaat bagi pembacanya.

Alloh mengabulkan doa tersebut, membukakan beliau rahasia di balik karya-karya beliau sebelumnya dan mengilhami beliau sebuah sistematika penulisan yang beliau sebut sebagai ‘sistematika yang menakjubkan’, sebuah sistematika yang belum pernah beliau tulis pada kitab-kitab sebelumnya. Berdasarkan ilham inilah, kitab Minhajul Abidin disusun, kitab terakhir karya Imam Al-Ghozali. Wallahu a’lam.


* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar