Pernahkah Anda menghitung, berapa kali Anda membaca surat Al-Fatihah per hari? Per minggu? Per tahun? Atau bahkan sejak Anda pertama kali mengenal surat Al-Fatihah hingga sekarang?
Dalam satu rekaat sholat, kita membaca Al-Fatihah sekali. Dalam sehari, kita wajib sholat 5 waktu dengan total 17 rekaat. Berarti kita membaca Al-Fatihah minimal 17 kali sehari. Belum lagi jika kita tambahi menu sholat kita dengan sholat sunnah qobliyah-ba’diyah, tahajjud, witir dan segala macamnya… Tentu frekuensi membaca Al-Fatihah jauh lebih dari 17 kali.
Jadi, sehari minimal 17 kali. Kalau begitu, dalam seminggu kita membaca Al-Fatihah minimal sebanyak 119 kali. Dalam sebulan minimal 476 kali (bulan Februari = 28 hari), maksimal 527 kali (31 hari). Jika kita hitung lagi, ternyata dalam setahun, kita membaca Al-Fatihah minimal sebanyak 6.205 kali! Minimal 6.205 kali! WOW!
Jika dihitung sejak kita pertama kali membaca Al-Fatihah, tentu frekuensi tersebut akan jauh lebih besar.
Nah, dengan begitu seringnya kita membaca Al-Fatihah, sudahkah kita memahami maknanya? Atau setidaknya, sudahkah kita luangkan waktu untuk memahami makna surat Al-Fatihah.
Coba kita renungkan. Selama bertahun-tahun kita hidup di negara yang aman, yang di dalamnya berlimpah ruah guru agamanya, kemana sajakah kita tukar nafas dan umur kita? Kita bisa melihat. Begitu bersemangat kita belajar di sekolah, tentang sains, ilmu sosial, bahasa dan segala macamnya. Ujian Nasional pun kita persiapkan seolah akan terjadi Perang Dunia Ketiga. Lulus SMA, kita berbondong-bondong mengikuti tes seleksi masuk Perguruan Tinggi dengan aneka jalurnya. Saat kuliah, kita nggetu dan umek dengan studi kita, seolah kuliah adalah segala-galanya. Ada pula yang sibuk dengan organisasinya. Hingga sebagian dari kita, ada yang menyabet gelar Sarjana, Magister, Doktor bahkan Profesor. Praktis, kecerdasan kita pun diakui di mana-mana, dengan aneka spesialisasi dan gelar di belakang nama.
Tapi bagaimana dengan Al-Fatihah? Seberapa jauh pemahaman kita terhadap Al-Fatihah? Bagaimana dengan Tajwid kita saat membaca Al-Fatihah? Apa kata Alloh jika gelar kita 'dihadapkan' di depan Al-Fatihah? Bagaimana pertanggungjawban kita terhadap Alloh, atas penggunaan nafas, tenaga dan umur kita?
Padahal, Al-Fatihah adalah ringkasan seisi Al-Qur’an. Bahwa Al-Qur’an adalah kitab paling sempurna yang merevisi kitab-kitab dan suhuf-suhuf sebelumnya, dan semuanya terangkum dalam Al-Fatihah. Begitu istimewa Al-Fatihah. Barangkali karena keistimewaannya yang begitu besar, hingga setan, musuh bebuyutan kita, menjauhkan perhatian kita dari Al-Fatihah dan mengelabui kita agar lebih mengejar karir dan pendidikan yang belum tentu menjanjikan kebahagian masa depan dan akhirat.
Mari kita nilai diri kita masing-masing. Yuks, kita belajar memahami Al-Qur'an. Kita mulai dari Al-Fatihah. . .
WaLlohu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar