cerita, renungan, rangkuman, dan catatan personal seorang pengembara ilmiah

Minggu, 07 Desember 2014

Allahul Kafiy Robbunal Kafiy: Kesan & Pesan


قَصَدْنَا الْكَافِيْ وَجَـــــــــــدْنَا الْكَافِيْ
::
اللهُ الْـــــــــكَافِيْ رَبُّـــــــــنَا الْــــكَافِـيْ
وَ نِعْمَ الْــــــكَافِيْ أَلْحَـــــــــــــمْدُ لله
::
لِــــكُلٍّ كَــــــــــافِيْ كَفَــــــانَا الْــــكَافِيْ

Allah adalah Sang Maha Mencukupi, Rabb Kami/Kita adalah Sang Maha Mencukupi //
Kami/Kita menuju Sang Maha Mencukupi, Kami pun menemukan Sang Maha Mencukupi
Kepada semua makhluk-Nya Dia Maha Mencukupi, Semoga Sang Maha Mencukupi mencukupi kami/kita//
Dia lah Dzat Yang Terbaik dari Yang Mencukupi, segala puji hanya milik Allah.


Syair di atas sudah tidak asing lagi di telinga kita. Di surau-surau desa, di masjid-masjid desa dan kota, syair itu sering dilantunkan setelah adzan dikumandangkan, sebagai petunjuk bahwa sholat belum didirikan di tempat ia mengalun. Beberapa di antara kita memang ada yang berselisih pendapat tentang boleh-tidaknya mengisi jeda antara adzan dan iqomah dengan melantunkan pujian kepada Allah atau sholawat kepada baginda Nabi SAW. melalui pengeras suara. Mengenai itu, saya hanya mengatakan bahwa perselisihan yang demikian tidaklah semestinya melonggarkan ukhuwah (persaudaraan) di dalam tubuh umat. Kedua belah pihak, yakni pihak yang membolehkan dan pihak yang melarang, sama-sama mempunyai dasar hukum. Sungguh tidak semestinya jika sampai terjadi pertengkaran di antara kedua kelompok, apalagi hingga mencerai-beraikan persatuan umat. Na’uudzu biLlah.

Seperti tersurat dalam terjemahannya, syair Allahul Kafiy mempunyai banyak esensi luhur yang tersirat. Penyebutan kata Al-Kafiy (Maha Mencukupi) terjadi berkali-kali, tak kurang dari 7 kali, seolah menunjukkan kepada kita betapa kita harus selalu ingat bahwa Allah Maha Mencukupi dan hanya Allah sajalah yang berkuasa mencukupi dan memenuhi segala kebutuhan kita. Betapapun masalah hidup menghimpit kita, membuat kita susah, Allah lah yang paling layak kita mintai pertolongan, yang paling pantas menjadi sandaran kita, karena Allah tidak pernah sekalipun mengecewakan kita.

Secara intuitif, syair Allahul Kafiy sangat baik untuk kita dengarkan dan lantunkan dalam waktu senggang, di saat penat bekerja, selama berkendara, atau bahkan, jika kita anak band, kita nyanyikan di saat konser sambil menyampaikan isinya yang sangat inspiratif.

Kami/Kita menuju Sang Maha Mencukupi, Kami pun menemukan Sang Maha Mencukupi
Penggalan ini berarti, kapan pun Allah kita tuju, sebagai sandaran, tempat memohon pertolongan, meminta kemudahan dan kelancaran rejeki, meminta kemudahan dalam belajar, dan kekuatan menjalani hidup yang seringkali terasa tidak mudah, kita akan selalu menemukan-Nya bersama kita. Allah selalu ada kapanpun kita butuhkan. Allah berfirman [1]:

Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqoroh: 186).

Tidak perlu lah malu dan ragu untuk meminta dan berdo’a kepada-Nya. Sebagian ulama sufi bahkan berujar, “Bagaimana mungkin hamba tidak memohon, sedang Engkau Maha Pemurah?” [2].

Semoga Sang Maha Mencukupi mencukupi kami/kita
Penggalan ini adalah bagian do’a yang tersurat dari syair Allahul Kafiy, salah satu bukti bahwa syair indah ini juga berfungsi sebagai media pengantar permohonan kita kepada Allah, agar selalu diberikan kecukupan. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa syair ini banyak dilantunkan di berbagai daerah. Kita pun tak perlu ragu untuk melantunkannya.

Dia lah Dzat Yang Terbaik dari Yang Mencukupi
Harta, materi, jabatan dan pekerjaan memang mempunyai efek mencukupi sebagian kebutuhan kita, tapi efek itu muncul bukan bersumber dari sana. Efek itu hakikatnya bersumber dari Allah, ketika Allah mencukupi sebagian kebutuhan kita melalui harta, materi, jabatan dan pekerjaan tersebut. Bahkan, jika kita harus mengandaikan bahwa materi dapat mencukupi kita, Allah tetaplah yang terbaik dari apapun selain-Nya yang menurut kita berpotensi mencukupi kebutuhan kita.

Tentu saja, pengandaian itu sendiri mustahil dalam pandangan Tauhid, karena berandai-andai seperti itu seolah berarti meyakini adanya dzat selain Allah yang bisa memberi pengaruh (efek mencukupi), padahal hakikatnya tidak demikian. Maka berdasarkan konsep tauhid, pemahaman yang tepat adalah meyakini bahwa hanya Allah lah yang mencukupi kita. Bahwa materi, pekerjaan, jabatan dsb. hanyalah sarana untuk memenuhi kecukupan, agar manusia bisa berusaha dan berikhtiar, agar manusia terus belajar, tumbuh semakin dewasa secara mental maupun fisik, dan terutama semakin mengenal Allah, melalui petunjuk dan tanda yang tersemat di balik berbagai realitas dan materi.

Semoga Allah selalu merahmati kita, memberi kita kecukupan atas segala kebutuhan kita. WaLlahu a’lam.

[1]      Qur’an Digital, versi 2.1

[2]      Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariyaa Yahyaa bin Syarof An-Nawawiy, 1955, Al-Adzkaar Al-Muntakhobat min Kalaami Sayyid Al-Abroor SAW., cetakan 4, Surabaya: Nurul Huda.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar