قَصَدْنَا الْكَافِيْ وَجَـــــــــــدْنَا الْكَافِيْ
|
::
|
اللهُ الْـــــــــكَافِيْ رَبُّـــــــــنَا
الْــــكَافِـيْ
|
وَ نِعْمَ الْــــــكَافِيْ أَلْحَـــــــــــــمْدُ
لله
|
::
|
لِــــكُلٍّ كَــــــــــافِيْ كَفَــــــانَا الْــــكَافِيْ
|
Allah adalah Sang Maha
Mencukupi, Rabb Kami/Kita adalah Sang Maha Mencukupi //
Kami/Kita menuju Sang Maha
Mencukupi, Kami pun menemukan Sang Maha Mencukupi
Kepada semua makhluk-Nya Dia
Maha Mencukupi, Semoga Sang Maha Mencukupi mencukupi kami/kita//
Dia lah Dzat Yang Terbaik
dari Yang Mencukupi, segala puji hanya milik Allah.
Syair di atas sudah tidak asing lagi di telinga kita.
Di surau-surau desa, di masjid-masjid desa dan kota, syair itu sering dilantunkan
setelah adzan dikumandangkan, sebagai petunjuk bahwa sholat belum didirikan di
tempat ia mengalun. Beberapa di antara kita memang ada yang berselisih pendapat
tentang boleh-tidaknya mengisi jeda antara adzan dan iqomah dengan melantunkan
pujian kepada Allah atau sholawat kepada baginda Nabi SAW. melalui pengeras
suara. Mengenai itu, saya hanya mengatakan bahwa perselisihan yang demikian
tidaklah semestinya melonggarkan ukhuwah (persaudaraan) di dalam tubuh
umat. Kedua belah pihak, yakni pihak yang membolehkan dan pihak yang melarang,
sama-sama mempunyai dasar hukum. Sungguh tidak semestinya jika sampai terjadi
pertengkaran di antara kedua kelompok, apalagi hingga mencerai-beraikan
persatuan umat. Na’uudzu biLlah.
Seperti tersurat dalam terjemahannya, syair Allahul
Kafiy mempunyai banyak esensi luhur yang tersirat. Penyebutan kata Al-Kafiy
(Maha Mencukupi) terjadi berkali-kali, tak kurang dari 7 kali, seolah
menunjukkan kepada kita betapa kita harus selalu ingat bahwa Allah Maha
Mencukupi dan hanya Allah sajalah yang berkuasa mencukupi dan memenuhi segala
kebutuhan kita. Betapapun masalah hidup menghimpit kita, membuat kita susah,
Allah lah yang paling layak kita mintai pertolongan, yang paling pantas menjadi
sandaran kita, karena Allah tidak pernah sekalipun mengecewakan kita.
Secara intuitif, syair Allahul Kafiy sangat
baik untuk kita dengarkan dan lantunkan dalam waktu senggang, di saat penat
bekerja, selama berkendara, atau bahkan, jika kita anak band, kita
nyanyikan di saat konser sambil menyampaikan isinya yang sangat inspiratif.
Kami/Kita menuju Sang Maha Mencukupi, Kami pun
menemukan Sang Maha Mencukupi
Penggalan ini berarti, kapan pun Allah kita tuju,
sebagai sandaran, tempat memohon pertolongan, meminta kemudahan dan kelancaran
rejeki, meminta kemudahan dalam belajar, dan kekuatan menjalani hidup yang seringkali
terasa tidak mudah, kita akan selalu menemukan-Nya bersama kita. Allah selalu
ada kapanpun kita butuhkan. Allah berfirman [1]:
“Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang
Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran.” (Al-Baqoroh:
186).
Tidak perlu lah malu dan ragu untuk meminta dan
berdo’a kepada-Nya. Sebagian ulama sufi bahkan berujar, “Bagaimana mungkin
hamba tidak memohon, sedang Engkau Maha Pemurah?” [2].
Semoga Sang Maha Mencukupi mencukupi kami/kita
Penggalan ini adalah bagian do’a yang tersurat dari
syair Allahul Kafiy, salah satu bukti bahwa syair indah ini juga
berfungsi sebagai media pengantar permohonan kita kepada Allah, agar selalu
diberikan kecukupan. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa syair ini
banyak dilantunkan di berbagai daerah. Kita pun tak perlu ragu untuk melantunkannya.
Dia lah Dzat Yang Terbaik dari Yang Mencukupi
Harta, materi, jabatan dan pekerjaan memang mempunyai
efek mencukupi sebagian kebutuhan kita, tapi efek itu muncul bukan bersumber
dari sana. Efek itu hakikatnya bersumber dari Allah, ketika Allah mencukupi
sebagian kebutuhan kita melalui harta, materi, jabatan dan pekerjaan tersebut.
Bahkan, jika kita harus mengandaikan bahwa materi dapat mencukupi kita, Allah
tetaplah yang terbaik dari apapun selain-Nya yang menurut kita berpotensi
mencukupi kebutuhan kita.
Tentu saja, pengandaian itu sendiri mustahil dalam
pandangan Tauhid, karena berandai-andai seperti itu seolah berarti meyakini adanya
dzat selain Allah yang bisa memberi pengaruh (efek mencukupi), padahal
hakikatnya tidak demikian. Maka berdasarkan konsep tauhid, pemahaman yang tepat
adalah meyakini bahwa hanya Allah lah yang mencukupi kita. Bahwa materi, pekerjaan,
jabatan dsb. hanyalah sarana untuk memenuhi kecukupan, agar manusia bisa
berusaha dan berikhtiar, agar manusia terus belajar, tumbuh semakin dewasa
secara mental maupun fisik, dan terutama semakin mengenal Allah, melalui
petunjuk dan tanda yang tersemat di balik berbagai realitas dan materi.
Semoga Allah selalu merahmati kita, memberi kita
kecukupan atas segala kebutuhan kita. WaLlahu a’lam.
[1] Qur’an
Digital, versi 2.1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar