Kitab
Jurruumiyyah (kadang disebut Aajruumiyyah atau Aajurruumiyyah) merupakan salah
satu kitab muqoddimah atau pendahuluan untuk mempelajari ilmu Nahwu. Kitab ini
disusun oleh Syeikh Al-‘Allaamah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash-Shonhaji
rahimahuLlah. Beliau biasa dikenal dengan nama Ibnu Ajurruum. Kata ‘Ajurruum’
berasal dari bahasa Barbar, yang berarti Al-Faqiir Al-Mutashowwif. Maknanya
dalam bahasa Indonesia, WaLlahu a’lam, adalah: yang fakir dan mensucikan
dzohir-batinnya. Beliau lahir di kota Pasa, Maroko, pada tahun 672 H,
bertepatan dengan tahun wafatnya Imam Ibnu Malik Al-Andalusi rahimahuLlah,
seorang imam besar bidang Nahwu-Shorof yang menulis kitab monumental berjudul
Alfiyyah ibnu Malik. Syeikh Ash-Shonhaji atau Ibnu Ajurruum wafat pada 723 H di
kota yang sama tempat beliau dilahirkan.
Kitab Jurrumiyyah termasuk di antara sejumlah kitab monumental yang hanya
terdiri dari beberapa halaman saja dan terbilang sangat tipis. Isinya sangat
mendasar dan ringkas, sehingga relatif mudah dihafal. Di balik wujudnya yang
mungkin terkesan ‘mungil’, Jurruumiyyah memiliki banyak keistimewaan.
Keistimewaan ini antara lain dapat dilihat dari banyaknya jumlah syarah (kitab
penjelas_pen) yang menguraikannya. Terhitung, sudah lebih dari seratus penulis
yang menguraikan isi Jurruumiyyah, menjadikan judul dan nama pengarangnya
semakin dikenal, semakin harum dan tak lekang oleh waktu. Hingga kini pun,
masih saja dapat kita temukan kitab baru yang men-syarah-inya, dengan
pendekatan yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Ini semakin menunjukkan
kepada kita, betapa wujudnya yang kecil tak berarti nilai dan kualitasnya
kerdil. Sungguh benarlah semboyan “jangan menilai buku dari sampulnya.”
Berbicara tentang kitab yang satu ini, ada kisah menarik yang banyak beredar di tengah-tengah khalayak. Konon, suatu hari ketika Syeikh Ibnu Ajurrum telah selesai menyusun kitab Jurruumiyyah, beliau dengan sengaja melemparkan kitab tersebut ke sungai Pasa, sambil berujar,
“Jika kitab ini kutulis dengan tulus ikhlas karena Allah, dan telah diterima oleh-Nya, maka air tidak akan mampu mencelakainya.”
Seolah-seolah beliau berharap kecemasan di hatinya akan sirna jika saja naskah Jurruumiyyah lenyap dilahap sungai Pasa. Namun Allah menyelematkannya dari kerusakan. Air tak mampu menenggelamkannya. Ia tak raib oleh sungai Pasa… Ia selamat.
Dalam perkembangannya, Jurruumiyyah terus-menerus dipelajari, diajarkan, didiktekan, disalin, dicetak, diterbitkan dan disebarluaskan hingga sampai di hadapan kita. Sungguh disayangkan jika kita tak sempat memepelajarinya…
NB: Jika ada uraian yang salah, mohon diingatkan. Terima kasih. Semoga bermanfaat.
Referensi:
- Al-Kawaakib Ad-Durriyyah, syarhu Mutammiah Al-Ajruumiyyah, cetakan kedua, karya Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Abd Al-Baariy Al-Ahdaliy, penerbit Al-Haramain Singapura-Jeddah-Indonesia.
- Taarikh An-Nahwi Al-‘Arabiy fiy Al-Masyriqi wa Al-Maghribi, cetakan kedua, karya Dr. Muhammad Al-Mukhtar Walad Abbaah, Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar