cerita, renungan, rangkuman, dan catatan personal seorang pengembara ilmiah

Selasa, 09 Desember 2014

Ujian Hidup & Kenaikan Kelas

Hidup tanpa masalah bukanlah hidup. Sama halnya, hidup tanpa kebahagiaan juga tidak bisa disebut hidup. Hidup adalah kombinasi dari keduanya. Seperti halnya cuaca yang kadang mendung, bahkan hujan, dan kadang terik, bahkan kemarau; dalam hidup, suka dan duka datang silih berganti.

Para ulama mengatakan, suka maupun duka, keduanya adalah ujian. Dalam keadaan senang, seorang hamba sesungguhnya diuji: akankah ia bersyukur, akankah kebahagiaan membuatnya lupa kepada sang Pencipta, hingga meninggalkan-Nya? Sedangkan dalam keadaan susah-pahit, ia pun diuji: apakah keimanannya tetap teguh, meski dengan beriman dan menjalankan agama, ia tetap didera kesedihan? Akankah ia menerima dengan lapang dada putusan-Nya, meski tak sesuai harapan? Akankah ia meninggalkan Allah, karena merasa dikecewakan?

Allah tidak memberi beban kepada hamba-Nya kecuali sesuai dengan kekuatan yang dimilikinya. Begitu yang sering kita dengar di tengah masyarakat. Tetapi bagaimana itu ditanamkan dalam menjalani hidup sehari-hari, sehingga bisa membuahkan panen kenikmatan hidup, bahkan di saat tidak bahagia sekalipun?

Seperti halnya pada ujian kenaikan kelas di sekolah, ujian hidup sejatinya juga memiliki misi dan tujuan yang lebih-kurang sama, yakni bertujuan untuk memilih dan memilah-milah, siapa yang pantas naik ‘kelas’ dan siapa yang belum saatnya naik kelas. Dia yang tidak lulus, bisa saja malah turun kelas, atau malah dikeluarkan. Bedanya, dalam ujian hidup, kelas kita adalah tingkatan kualitas keimanan. Oleh karena itu, semakin rumit, semakin berat ujian hidup, semakin tinggi kelas yang menanti setelah kelulusan.



Syeikh Ibnu ‘Atho-iLlah As-Sakandariy rahimahuLlah mengatakan dalam Al-Hikam, bahwa bagi kita, kadang kepahitan hidup lebih baik dalam memberikan efek teringat pada Allah. Justru, kesenangan dan nikmat yang diberikan pada kitalah yang lebih berbisa, lebih berbahaya, karena mempunyai daya lebih kuat untuk membuat kita lupa kepada sang Pencipta. Berapa banyak, ibadah terlalaikan karena sibuk bersenang-senang?

Sementara itu, di saat didera kesedihan dan kepahitan hidup, kita malahan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk bisa lebih dekat dengan Allah, karena rasa sedih membuat kita tersadar bahwa tidak ada siapapun yang bisa dimintai pertolongan selain-Nya, sehingga kita jadi lebih rajin berdo’a dan memohon kepada-Nya.

Beliau juga mengatakan, bahwa himpitan dan kesedihan yang mendera hidup kita sebenarnya adalah media, suatu perantara, dan merupakan kesempatan yang sengaja diberikan kepada kita, agar kita semakin mengenal Allah. Dengan demikian, masalah hidup dan kesedihan yang diakibatkannya, pada hakikatnya adalah kasih sayang (rahmat) Allah kepada hamba-Nya.

Semoga kita selalu diberikan ketabahan dan kesabaran, dalam beribadah, menjauhi larangan-Nya, menghadapi problematika hidup, dan tanpa lelah bersyukur di kala senang. Amin, ya Mujiibas saa-iliin. WaLlahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar