سَأُنْبِــــــــيْكَ عَــــنْ مَجْـــــمُوْعِـهَا بِبَيَانِ
|
::
|
أَلَا لَا تَنَــــــــــــــالُ الْعِـــــــــــلْمَ
إِلَّا بِسِـــــــــــتَّةٍ
|
وَ إِرْشَـــــــادِ أُسْــــــتَاذٍ وَ طُــــــوْلِ
زَمَانِ
|
::
|
ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَ اصْطِــــــــــــبَارٍ وَبُلْـــــــــغَةٍ
|
“Ingatlah, Kau tidak akan
bisa mendapat ilmu, kecuali dengan enam bekal
Akan kuceritakan kepadamu
tentang keenam bekal itu dengan jelas:
Kecerdasan, kesenangan,
bekal untuk pembiayaan,
petunjuk seorang guru dan
durasi yang lama”
Penggal syair di atas dapat ditemukan di banyak kitab,
antara lain kitab Alaa-laa dan Ta’liimul Muta’allim. Keduanya
merupakan kitab standard yang hingga saat ini masih digunakan di banyak
pesantren. Syair serupa dengan sedikit perbedaan pada redaksinya juga terdapat
dalam Diiwaan Al-Imam Asy-Syafi’iy.
Menurut syair itu, agar kita mendapatkan ilmu yang
ingin kita kuasai, ada enam hal yang harus kita penuhi, yaitu:
“ذُكَــــــــاء” (Kecerdasan)
Guru penulis pernah mengatakan bahwa kecerdasan di
sini lebih diartikan sebagai mental (pikiran/otak/akal) yang normal (tidak
idiot). Jadi, asalkan mental seseorang normal, itu berarti ia sudah punya bekal
kecerdasan, alias telah memenuhi syarat pertama. Pemahaman seperti ini sangat
baik untuk keperluan praktis.
Di sisi lain, menurut kamus Munawwir, lafadz “ذُكَــــــــــــــاءٍ” bermakna kecerdasan atau
kecerdikan, yang ditarik-simpulkan dari definisi bahasa Arab
الــذُّكَــــــــــاءُ: سُرْعَـــــــةُ الْفَـــــــهْمِ
Artinya: “Adz-dzukaa’u: kemampuan memahami dengan cepat.”
Definisi senada juga dapat kita temukan dalam kitab Lisanul
‘Arab.
Senang pada Ilmu
Seringkali, belajar tidak mood dan tidak
bersemangat karena tidak adanya rasa cinta pada ilmu. Seandainya kita cinta
pada ilmu, meskipun hujan deras, tidak enak badan, jarak ke sekolah/kampus
jauh, itu semua tidak akan mampu memadamkan semangat mencari ilmu kita. Karena
pergi ke sekolah/kampus didasari rasa cinta pada ilmu.
Kesabaran
Kesabaran dalam banyak sekali hal, seperti menunggu
kehadiran guru di kelas, dosen di saat perkuliahan, dosen pembimbing di saat
skripsi; kesabaran kuliah/sekolah sambil mencari biaya sendiri; kesabaran mengerjakan
tugas rumah yang banyak dan tiada henti; kesabaran menghadapi ujian yang
menimpa keluarga, dan mungkin yang paling sulit adalah bersabar untuk terus
belajar, meskipun sudah lama belajar tapi masih juga belum paham atau belum
lulus ujian.
Tidak kunjung paham materi, meskipun materi itu sudah dipelajari berkali-kali memang membawa dampak psikis yang sangat besar. Dalam situasi seperti itu, sebagian orang mungkin merasa seolah apa yang ia perjuangkan sia-sia. Kepercayaan dirinya semakin luntur. Masa depannya pun tampak suram di matanya. Dan mulailah ia mengurangi usaha. Mulailah kendur perjuangannya.
Betapapun, tidak ada satu pun usaha yang sia-sia. Kita hasil mungkin belum terlihat, tapi bukan berarti hasil tidak akan terlihat. Bagaimana jika besok adalah hari dimana kita lulus, namun karena sekarang tidak belajar, ujian besok pun gagal. Yakinlah, ada suatu momentum, entah kapan, dimana kita menoreh keberhasilan. Jika usaha kita belum cukup dan kita berhenti, momentum itu tak kan pernah hadir. Bukan karena ia tidak ada, tetapi karena kita belum menghampirinya dengan usaha dan perjuangan yang sepadan.
Bersambung ke Kiat Sukses Belajar 2
Kalau diperbolehkan memberi tanggapan, ada yang ingin saya tanggapi, yakni:
BalasHapusDi bagian terjemahan dari syair Alaa-laa di atas, sepertinya ada satu bekal untuk bisa mendapat ilmu yang mungkin terjemahannya kelupaan belum dituliskan oleh penulis, yakni "اصْطِــــــــــــبَارٍ" atau "kesabaran".
Sebaliknya, di bagian uraian penjelasannya dan setelah disambung membaca "Kiat Sukses Belajar 2", sepertinya ada satu bekal supaya bisa mendapat ilmu yang belum diuraikan penjelasannya, yakni "بُلْـــــــــغَةٍ" atau "bekal untuk pembiayaan".
Apakah benar demikian?
Jika saya yang salah, mohon diluruskan.
Terima kasih.